BAHASA NGAPAK
Limbeyane nyempal blarak.. Kartisem, goli mlaku pating kradak ora teyeng kalem… liwat ngarep koplak menyak kulit gedhang keplarak, kepaduk ngrungkebi becak….” (Lambaiannya seperti pelepah kelapa yang sudah patah, Kartisem kalau jalan berisik tidak bisa diam.. lewat depan komplek menginjak kulit pisang terpeleset dan jatuh tengkurep di becak…), itulah sepenggal lirik lagu “Nini Kartisem” yang dipopulerkan oleh Sopsan, sebuah group campur sari dari Banyumas. Untuk saya pribadi orang Cilacap yang sememangnya akrab dan menggunakan bahasa ini setiap hari saja sempat sangat geli dan tertawa mendengar lagu ini, apa lagi orang yang memang berasal dari daerah yang tidak menggunakan dialek Banyumas yang mendengarnya.
Bahasa
Banyumasan ini atau dikenal dengan “bahasa ngapak-ngapak” digunakan
oleh masyarakat jawa bagian barat, tapi bukan berarti orang jawa barat
yang terbiasa berbahasa sunda lho. Dalam hal ini adalah beberapa bagian
jawa tengah bagian barat yang terbagi menjadi 3 bagian, yaitu selatan
(Purwokerto, Banyumas, Cilacap, Kroya, Gombong kebumen dan sekitarnya),
bagian barat (Cirebon, indramayu, sebagian Ciamis dan sekitarnya), serta
bagian Utara (Brebes, Tegal, Pemalang dan sekitarnya). Bahkan ada yang
aneh, yaitu masyarakat Banten utara yang memang memiliki kesamaan yang
sangat dekat dalam berkomunikasi sehari-hari yaitu dengan menggunakan
bahasa mereka yang mirip dengan bahasa Banyumasan juga. Ini sangat
menarik sekali jikalau dikaitkan dengan sejarah, pada masa lalu banyak
orang dari daerah banyumas dan sekitarnya yang di buang ke daerah
banten, mereka beranak pinak dan menempati beberapa bagian banten masa
itu sehingga sekarang, dengan demikian dibeberapa bagian propinsi yang
dulu ikut Tangerang ini terdapat kampung-kampung yang menggunakan bahasa
pangenyongan juga. Jikalau dilihat dari jarak yang lebih dari 300 Km
itu memang sangat mengejutkan yaaaa……
Sebenernya
ada apa, dan mengapa dialek Banyumasan ini selalu menjadi bahan
tertawaan apabila terdengar? Sehingga para penggunanya selalu berusaha
menutupinya dikala berada di kerumunan orang-orang yang berbahasa selain
Banyumasan? Sungguh sangat ironi dan menghawatirkan, padahal sebuah
dialek adalah identitas suatu etnik, karena dialek itu adalah asset
kekayaan suatu etnik, orang lain akan mengenal kita dari etnik mana
bukan karena kulit atau penampilan (kecuali etnik tertentu yang memang
memiliki penampilan khas, seperti Tiong Hoa yang putih dan mata sipit,
atau etnik papua yang Hitam dan bermuka negrito) melainkan bahasa atau
dialek yang kita ucapkan, orang yang berbicara dengan logat sunda tentu
sangat jelas dia berasal dari jawa barat dan sekitarnya, dan apabila
menggunakan bahasa jawa baku itu sudah pasti berasal dari daerah
Yogyakarta ke timur, dan tentu saja yang berbicara Ngapak-ngapak itu
sudah pasti dari Banyumas, Cilacap dan sekitarnya.
Bahasa
Banyumasan ini kalau ditelaah lebih dalam mungkin adalah bahasa yang
paling memiliki hubungan langsung dengan bahasa jawa kuno/bahasa kawi.
Hal ini bisa kita lihat dari beberapa kosa kata yang ada di dalamnya,
seperti penggunaan kata “inyong” untuk sebutan “saya” dalam bahasa
Banyumas, ini tidak jauh berbeda dengan bahawa jawa kuno yang menyebut
“Ingwang” pada sekitar tahun 900 M sampai 1300 M, atau kata “Ingong” pada
tahun 1300 M sampai 1600 M yang memiliki arti sama yaitu “saya”. Selain
itu juga ada kata “Gandul” yang memiliki arti papaya atau “Rika” yang
memiliki arti “kamu” yang juga biasa digunakan pada zaman Jawa kuno
dulu.
Lalu
mengapa bahasa Banyumasan itu dianggap sebagai bahasa orang kelas bawah
bila dibandingkan dengan bahasa Jawa lainya, apa karena pengucapannya
yang khas? Ternyata bukan. Dahulu pada masa kerajaan, pusat pemerintahan
terletak di Yogyakarta dan sekitarnya, jadi di daerah jawa tengah
bagian barat tidak ada kerajaan, termasuk dareah Banyumas dan
sekitarnya, sehingga daerah ini menjadi bagian dari kerajaan yang berada
di Yogyakarta tersebut. Pada masa itu tentu saja sering ada utusan atau
pesuruh yang datang dari pusat kota untuk sekedar meninjau atau
menyampaikan amanat penting ke kepala-kepala pemerintahan di daerah
Banyumas. Pesuruh/utusan kerajaan itu biasa disebut “Gandhek” oleh
orang-orang setempat, karena pesuruh atau “gandhek” tersebut berasal
dari jawa ketimuran maka bahasa jawa yang dipakai adala bahasa jawa yang
baku, yang biasa disebut jawa wetanan, atau yang kini digunakan oleh
masyarakat Yogyakarta, solo dan sekitarnya. Oleh sebab itu penduduk jawa
Banyumas selalu menyebut kata “bandhek” untuk bahasa jawa wetanan tadi,
karena berasal dari kata “Gandhek” tersebut. Pada masa-masa itu karena
kebanyakan pejabat tinggi menggunakan bahasa jawa baku/wetanan maka
orang banyumasan merasa selalu mengalah, dikarenakan menganggap diri
mereka adalah kaum yang bertengger dibawahnya.
Pada
masa sekarang ini pun seringkali terbawa oleh kebiasaan masa lalu itu,
dimana orang Banyumas atau disebut sebagai orang panginyongan seringkali
merasa malu atau merasa terpencilkan bila menggunakan dialek ini di
muka masyarakat umum, terutama apabila berada di daerah yang tidak
menggunakan bahasa Banyumasan, seperti di Jakarta atau tempat lain.
Bahkan seringkali orang-orang yang berbahasa banyumasan pada masa ini
pun masih diperlakukan seperti masa-masa ratusan tahun yang lalu,
orang-orang yang tidak menggunakan bahasa ini terkadang mengkait-kaitkan dengan
warteg (warung tegal) atau dengan para pembantu rumah tangga. Ini
terlihat sekali dengan tayangan-tayangan televisi yang memang mau tidak
mau akan menjadi perhatian public, dan munkin menjadi sebuah keharusan
yang tidak dapat dirubah, kalau pemilik warteg ya pasti orang-orang jawa
tengah bagian barat, atau pembantu rumah tangga ya pasti ngomongnya
pake bahasa ngapak-ngapak, saya belum pernah lihat di sinetron atau
filem ada peran pembantu rumah tangga orang Batak atau orang dari suku
lain, ada sih…… tapi tidak sebanyak orang-orang Jawa yang dipajang
sebagai pembantu atau babu, terutama jawa panginyongan tadi.
Bahkan
saya pernah berdialog dengan orang yang berasal dari dareah Sumatra
utara, dia sendiri keturunan Jawa, namun dia berkata di mata masyarakat
luas di sana orang-orang jawa dari jaman dahulu tidak mementingkan
pendidikan untuk anak-anaknya, selalu memiliki banyak anak dan anak-anak
memiliki pekerjaan yang tidak jauh berbeda dengan orang tuanya, apa
bila orang tua petani maka orang tua itu akan berpikir anaknya akan jadi
petani seperti dirinya, jadi seperti hidup yang akan terus berulang
tanpa perubahan yang berarti. Jarang sekali orang jawa yang menginginkan
perubahan terhadap keturunannya kala itu. Apalagi orang jawa memiliki
semboyan “banyak anak banyak rejeki” atau “makan gak makan asal kumpul”
atau “alon-alon asal kelakon” (pelan-pelan yang penting terlaksana),
memang kalau ditelaah lebih dalam semboyan itu mencermikan sikap pasrah
yang cenderung pasif, dimana ini terlihat seperti apapun yang terjadi ya
terjadi saja, mereka tidak akan menentang atau berusaha bangkit.
Parahnya yang memiliki sifat seperti itu, atau masyarakat jawa yang
menganut prinsip itu adalah orang jawa pangeyongan di kebanyakannya, ini
juga terbukti dimana bila di lihat dari latar belakang pendidikan dan
peraih gelar sarjana kebanyakan orang-orang jawa wetanan, tidak
demikian dengan daerah Cilacap, banyumas dan sekitarnya, namun keadaan
sudah sedikit berubah akhir-akhir ini. Tetapi tidak menutup kemungkinan
masih banyak sekali masyarakat yang menganut prinsip tersebut, apalagi
masyarakat yang tinggal jauh diperkampungan atau pesisir.
Ini
sangat kontras sekali dengan orang-orang dari suku lain seperti Batak
atau Padang apa lagi dengan bangsa keturunan. Saya mohon maaf bukan mau
membanding-bandingkan suku, namun hanya sebagai pandangan saja, suku
batak memiliki watak keras dan ambisius, mereka juga sangat mementingkan
pendidikan, cita-cita yang sangat popular tentu saja pengacara, dan
menjadi pengacara mana bisa hanya tamat SD, karakter orang-orang batak
juga tegas, mereka tidak akan tinggal diam apabila mendapat perlakuan
buruk, ini sangat berbeda dengan masyarakat jawa. Oh ya seperti saya
ungkap diatas dalam tayangan televisi peran pengacara biasa diperankan
oleh orang batak dan peran pembantu diperankan oleh orang jawa, terutama
jawa panginyongan.
Itu
semua adalah fakta yang ada, dimana masyarakat Banyumas masih merasa
dirinya itu lebih rendah dari masyarakat jawa bagian lain atau bahkan
dari suku lain, walau jaman sudah berganti namun adat tersebut atau
karakter yang merasa dirinya itu hanya sekedar hamba seperti phobia dan
trauma hingga ke anak cucu.
Dalam
pergaulan modern seperti ini, seperti saya sendiri yang memang
dilahirkan dan di besarkan di Kroya Cilacap, tentu saja sangat mengerti
dan fasih dalam mendengar dan mengucapkan kata-kata dalam dialek
banyumasan ini, namun memang saya sendiri pun merasa sungkan sekali
untuk mengucapkan jikalau dengan teman atau orang yang bukan berasal
dari daerah saya, kekawatiran akan di tertawakan atau direndahkan selalu
muncul dalam benak saya. Yang lebih parah lagi bertahun-tahun saya
tinggal di luar kampung halaman saya, apa bila saya pulang saya dapati
hanya orang-orang tua saja yang berbicara menggunakan dialek banyumasan
asli, namun untuk anak-anak belasan hingga 25 tahunan mereka menggunakan
bahasa indonesia yang beraroma banyumasan. Seperti di toko atau
dipasar, pelayan atau penjual dagangan itu menggunakan bahasa indonesia.
Ini
salah siapa? Jikalau kita lihat ke masa lalu, apa kita harus
menyalahkan nenek moyang kita dulu?, atau kita sendiri yang memang tidak
pandai merubah nasib. Dalam dunia pendidikan juga turut berperan, kita
ingat saja jaman SD dan SMP dulu, muatan local yaitu pelajaran Bahasa
Dareah yang kita pelajari adalah bahasa Jawa baku yang biasa dipakai di
Yogyakarta, solo dan sekitarnya, namun bahasa asli Banyumasan atau
bahasa pangenyongan atau bahasa ngapak-ngapak tidak ada mata
pelajarannya, semua lagu daerah jawa yang di ajarkan juga tidak satupun
menggunakan bahasa dareah Banyumasan. Bahkan saya pribadi mendengar ada
lagu berbahasa banyumas ya lagu “Nini Kartisem” itu tadi, sebelumnya
munkin lagu-lagu seperti “kembang kilaras” atau “waru doyong” yang sudah
keburu di cap sebagai lagu cirebonan.
Ini
sungguh sangat menghawatirkan, padahal lidah dari orang-orang jawa
banyumasan ini adalah yang paling flexible dibandingkan dengan lidah
dari jawa bagian lain, saya sendiri tidak pernah ada yang menyangaka
kalau bahasa asal saya adalah bahasa ngapak-ngapak, dibandingkan dengan
siapa saja yang berasal dari dareah jawa wetanan hingga Surabaya dan
sekitarnya dimanapun dia tinggal, selama apapun pasti dialek asal masih
terdengar dengan jelas. Namun tidak untuk orang-orang dari jawa
banyumas, lidah kita akan fasih sefasih orang asli bahasa tersebut, kita
bisa bicara menggunakan bahasa Inggris tanpa “mendhok” jawa, atau
bahasa Mandarin dengan bagus seperti orang Taiwan. Lihat para TKW yang
pulang dari Taiwan atau Hongkong, mereka sangat fasih dan tidak
kelihatan sekali bahasa ngapaknya jika sedang bertutur dalam bahasa
china. Ini merupakan suatu bukti bahwa masyarakat banyumasan bisa untuk
berbaur dengan bangsa lain tanpa harus merendahkan diri, tapi bisa di
sejajarkan. Keadaan ini seperti dilemma, di satu sisi ini adalah hal
yang bagus dan positif karena lidah masyarkat banyumasan ini bisa
beradaptasi dengan bahasa manapun, namu di sisisi lain timbul
kekhawatiran jikalau nanti semua masyarakat banyumasan meninggalkan
bahasanya maka bisa-bisa beberapa puluh tahun kedepan sudah tidak ada
lagi dialek yang dianggap sebagai keturunan terdekat dari bahasa jawa
kuno ini.
Harapan
kita semua, apa yang sudah kita miliki seharusnya tidak hilang, terjual
atau tergadaikan, begitu pula dengan dialek kedaerahan yang ada di
Nusantara ini, teramat banyak, dan itu adalah kekayaan yang tidak
ternilai. Peran serta semua pihak memang sangat diperlukan, terutama
pemerintah dalam hal ini depertmen pendidikan dan juga kebudayaan.
Masyarakat banyumasan sendiri juga kini sudah tiba saatnya untuk bangun
dan sadar bahwa tidak ada lagi ancaman dari manapun, hilangkan semua
trauma dan phobia, kita adalah sama dan sejajar dengan etnik lain
dibawah paying Nusantara ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar